TEKNIK MENULIS BUKU BEST SELLER
Resume ke : 20
Penyusun :
Helem Parman, S.Pd
Gelombang : 33
Hari/tanggal :
Jumat,19 September 2025
Tema : Teknik Menulis Buku Best Seller
Narasumber : Dr. KH. Akbar Zainudin , M.M., MNE.
Moderator :
Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr. M.Pd
TEKNIK MENULIS BUKU BEST SELLER
Setiap penulis tentu bercita-cita agar bukunya menjadi best seller. Dari sebuah ide sederhana bisa menjelma menjadi
karya besar. Menulis
buku best seller setiap kita bisa melakukannya, asal mempunyai tekad sudah
membaja, kesungguhan, dan mengtahui caranya.
“Man Jadda Wajada” artinya siapa yang bersungguh-sungguh, pasti
berhasil. Bersama narasumber hebat Dr. KH. Akbar Zainudin , M.M., MNE. akan
menguraika kata MAN JADDA sebagai kompas langkah-langkah
dalam menulis buku best seller. 8 Langkah
Menulis Buku Best Seller dengan prinsip MAN JADDA
Pertama M, mulailah menulis dari sekarang. Jika kita ingin menulis maka tulislah, tulislah dari sekarang. Tulislah
apa yang ada dipikiran kita. Menulis itu jangan menunggu waktu luang, tetapi
kitalah yang menciptakan waktu untuk menulis. Luangkanlah waktu untuk menulis
10 sampai 20 menit. Konsisten dengan waktu yang telah dibuat untuk menulis
setiap hari. Lalu ambilah langkah kecil supaya kita menulis. Misalnya menulis
satu paragaf di buku catatan setiap hari. Kemudian kita ketik satu halaman di
laptop. Ingatlah buku setebal 200 halaman itu lahir dari satu kalimat pertama.
Menulis adalah keterampilan. Semakin
banyak kita berlatih menulis, maka semakin mahir kita dalam menulis. Dengan
latihan penuh disiplin setiap hari maka lama kelamaan tulisan kita akan semakin
bagus. Tulisan bagus tidak lahir begitu saja, tetapi hasil dari latihan yang
melalui proses yang panjang.
Kedua A, atur Ide dan outline. Sebelum
menulis agar kita tidak mutar-mutar dan sampai ketujuan, yang kita lakukan
adalah membuat outline. Outline adalah kerangka besar yang akan memandu kita
dari awal hingga akhir. Misalnya, kita inging menulis buku motivasi tentang
manajemen waktu. Buatlah bab-bab seperti : (1) Mengapa waktu berharga, (2)
Kesalahan umum dalam mengatur waktu, (3) Teknik sederhana manajemen waktu, dan
(4) Inspirasi tokoh sukses. Kerangka besar ini akan membuat ceritanya konsisten
dan kuat hingga akhir.
Ada dua mazhab dalam menulis. Yang
pertama adalah dengan outline dan yang kedua adalah tanpa outline. Dua-duanya
tidak ada yang salah karena gaya menulis setiap orang berbeda-beda. Kedua
mazhab ini bisa kita gunakan. Untuk kita penulis pemula disarankan untuk
membiasakan membuat outline detail terlebih dahulu. Buat pon-poin penting
terlebih dahulu, karena itu akan menjadi pijakan kita dalam menulis. Nanti jika
kita sudah mahir, maka dipesilahkan menulis tanpa outline.
Ketiga N, nikmati proses menulisnya. Menulis sebagian orang bisa menjadi beban. Padahal jika kita menikmatinya,
menulis bisa menjadi menyenangkan. Supaya aktivitas menulis bisa menyenangkan
maka caranya adalah kita jangan memasang target terlalu tinggi. Jangan terlalu
memikirkan target halaman atau kapan buku kita selesai. Kita fokus saja ke
tulisan kita dan menikmati setiap kalimat yang keluar dari pikiran kita.
Contoh sederhana, banyak penulis novel
mengaku menemukan kebahagiaan ketika larut dalam dunia tokoh-tokoh ciptaannya.
Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi sambil membayangkan wajah kawan-kawan masa
kecilnya. Ketika menulis dengan rasa senang, tulisan itu akan mengalir dengan
lebih jujur dan hangat.
Ingat sebagai pemula jangan terlalu keras
pada diri kita sendiri. Jika bosan, maka berhentilah sejenak. Jika kita sedang
semangat, maka tulislah lebih banyak. Jadikan proses menulis sebagai sahabat
yang menyenangkan, bukan sebaliknya menjadi menulis sebagi musuh.
Keempat J, Jaga Konsistensi Menulis. Sebagian besar penulis berhenti di tengah jalan. Apa penyebabnya? Sebabnya adalah karena kita tidak konsisten. Kita terlalu bersemangat menulis diawal, dan setelah itu kita cepat bosan. Kesuksesan menulis buku bukan ditentukan oleh ledakan semangat sesaat, tapi ditentukan oleh disiplin kecil yang berulang.
Konsistensi itu adalah ibunya kualitas.
Kalau kita konsisten kualitas tulisan kita akan semakin baik. Kita banyak ikut seminar
atau pelatihan menulis itu tidak penting dan ada jaminan jadi penulis hebat.
Sesungguhnya yang terpenting bagi kita
itu adalah latihan menulis setiap hari.
Tips praktis konsistensi menulis :
tentukan target sederhana, misalnya 500 kata sehari. Jika dilakukan konsisten,
dalam empat bulan kita sudah punya naskah setebal 60.000 kata, setara sebuah
buku penuh. Konsistensi kecil bisa menghasilkan karya besar.
Kelima A, ambil inspirasi dari sekitar. Inspirasi menulis bisa hadir dari sekitar kita. Inspirasi kebanyakan lahir dari pengalaman sehari-hari yang sederhana. Inspirasi bisa dari pengalaman kita pribadi, kisah orang lain, atau bisa dari peristiwa yang pernah terjadi di sekitar kita. Cobalah kita mulai memperhatikan di sekitar kita. Misalnya, obrolan di wrung kopi, obrolan di tempat ibadah, perjuangan tetangga terdekat, atau pengalaman pribadi saat kita mengalami jatuh bangun. Dari situ, kita bisa menemukan cerita yang autentik dan dekat dengan pembaca.
Contohnya, Tere Liye banyak menulis kisah
dari pengalaman masa kecilnya di Sumatera. Sederhana, tapi karena ditulis
dengan jujur, ceritanya bisa menyentuh hati jutaan pembaca.
Kita menulis bukan diawang-awang. Tetapi
kita menulis karena terinspirasi dari peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata yang ada di sekitar
kita. Sehingga tulisan kita itu seakan-akan ngobrol dengan pembaca. Kalau kita
seakan-akan ngobrol dengan pembaca, maka mereka akan merasa lebih enak untuk
membaca buku kita. Ini adalah kunci penting agar tulisan kita bisa lebih
komunikatif.
Keenam D, dengarkan kebutuhan pembaca. Buku best seller lahir bukan semata-mata dari keingian penulis,
tetapi dari kebutuhan pembaca. Penulis yang bijak adalah penulis yang bukan sekedar
dapat memberikan kepuasan pada dirinya sendiri, tapi dapat memberikan solusi
dan memberikan manfaat bagi orang banyak.
Sebagai penulis sebelum kita
menulis, kita sebaiknya mengetahui
terlebih dahulu permasalahan apa yang dialami masyarakat pada saat itu. Terus
kita mencari solusinya yang bisa kita ditawarkan. Jika buku yang kita tuliskan
bisa menjawab kebutuhan mereka, maka mereka akan mencari dan membaca buku tersebut, serta mereka tentu
akan merekomendasikan kepada orang lain. Misalnya, buku UKTUB menjadi best
seller karena menyentuh dapat memenuhi kebutuhan banyak orang terutama bagi
penulis.
Kita menulis bukan sekedar menulis. Kita
menulis hendaknya menyesuaikan dengan kebutuhan pembaca. Tema menulis bisa
untuk memberi motivasi kepada orang lain. Misalnya, motivasi untuk belajar,
pekerja, siswa, mahasiswa, dan sebaginya. Pembaca atau orang lain berminat
membeli buku kita karena mereka mendapatkan jawaban dari permasalahannya.
Intinya hadirnya buku kita itu menjawab persoalan atau kebutuhan mereka.
Ketujuh D, disiplin revisi. Naskah tulisan kita yang pertama adalah merupakan bahan mentah. Buku dikatakan baik jika buku tersebut lahir dari revisi yang telaten. Revisi tulisan bukan artinya tulisan kita jelek, tetapi itu sebagai bukti keseriusan kita untuk memberikan yang terbaik bagi pembaca.
Sebagai penulis kita harus lebih rajin
membaca ulang tulisannya, memperbaiki kalimat, menghapus tulisan yang tidak
perlukan, atau kita menambahkan yang penting. Perlu kita ingat, kualitas buku
terletak pada revisinya, bukan hanya pada ide awalnya. Yang perlu direvisi dari
tulisan kita Antara lain : (1). Iinformasi tangga dan tahun peristiwa, (2).
Ejaan dan kaidah, (3). Istilah Bahasa asing, (4). Penyelarasan gaya tulisan
keseluruhan, mesti sama dari awal sampai akhir.
Contohnya, Ernest Hemingway, penulis
besar dunia, mengaku sering merevisi karyanya berkali-kali. Bahkan ada naskah
yang direvisi hingga 39 kali sebelum akhirnya dipublikasikan. Begitu juga
dengan para penulis di Indonesia, mereka biasanya menghabiskan waktu lebih
banyak untuk revisi daripada menulis draft pertama.
Kedelapan A, aktif promosi. Buku best
seller tidak cukup hanya sampai ditulis saja, tapi perlu kita perkenalkan atau
promosikan. Kita harus lebih giat mempromosikan karya kita sendiri. Jangan kita
merasa takut, malu atau sungkan. Kita dituntut harus percaya diri. Kalau bukan diri kita sendiri
yang memperkenalakan siapa lagi?
Banyak cara untuk mengenalkan buku kita,
misalnya melalui media social, komunitas kita, seminar-seminar, atau lewat
obrolan kita sehari-hari. Di manapun ada kesempatan, kita manfaatkan untuk
jualan. Kita tidak akan hina dengan berjualan buku. Percayalah apa yang mereka
dapatkan itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan uang yang mereka keluarkan
untuk membeli buku kita. Promosi bukan sekadar menjual, tapi berbagi manfaat
dari buku kita. Semakin banyak orang tahu tentang buku kita, semakin besar
peluang buku kita menjadi best seller.
Kesimpulan
Delapan langkah menulis buku best seller dengan prinsip Man
Jadda Wajada bukan sekadar semboyan, tapi sebuah kompas langkah demi langkah
menuju lahirnya karya besar : Mulai
dari sekarang, Atur ide dan outline,
Nikmati proses menulis, Jaga konsistensi, Ambil
inspirasi dari sekitar, Dengarkan
kebutuhan pembaca, Disiplin revisi, dan
Aktif promosi.
Diakhir pertemuan Pak
Akbar Zainudin memberikan Closing statement :
Tetap semangat. Latihan setiap hari. Man Jadda Wajada. Pasti Bisa.
Salam Literasi
Helem Parman, S.Pd
Peserta KBMN PGRI Gelombang 33
.jpeg)
Komentar