KAIDAH PANTUN

 


Resume    ke       : 17

Penyusun            : Helem Parman, S.Pd

Gelombang        : 33

Hari/tanggal       : Jumat, 12 September 2025

Tema                  :  KAIDAH PANTUN

Narasumber       : Miftahul Hadi, S.Pd

Moderator          : Dail Ma’ruf

KAIDAH PANTUN

Pertemuan ke-17 KBMN PGRI gelombang 33 dimulai. Pertama  sebagai moderator  Dail Ma’ruf memperkenalkan diri dan sekaligus membuka kegiatan kelas belajar menulis .

Sebelum kegiatan dimulai, Dail Ma’ruf mengajak kita semua berdoa  sesuai agamanya masing-masing. Doa dipanjatkan agar kegiatan dapat berjalan  dengan baik dan  lancar. Ilmu yang diterima bermanfaat dan berkah.

Tak kenal maka tak sayang, yang muda, ganteng, banyak karya, sebagai narasumber mohon izin mengenalkan diri. Narasumber hebat berdedikasi tinggi yaitu Miftahul Hadi, S.Pd yang biasa dipanggil Mas Mif. Beliau alumni KBMN gelombang 17, atas bimbingan Bunda Kanjeng serta teh Aam, ditempa dan dipoles hingga bisa menghantarkan Mas Mif menjadi narasumber di tengah-tengah kita semua.

Diawal kegiatan kelas Mas Mif bertanya kepada kita semua, apa yang terlintas di benak bapak ibu ketika mendengar pantun? Jawaban dari peserta bermacam-macam.   

Mas Mif menyampaikan pada pertemuan kali ini ada 3 tujuan yang diharapkan setelah materi  disampaikan. Pertama, kita semua dapat mengenal pantun. Kedua, mengetahui proses kreatif menyusun pantun. Ketiga, dapat praktik langsung menyusun pantun.

Pengertian Pantun

Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)

Pantun merujuk kepada sesuatu yang teratur dan lurus, baik secara maujud (konkrit) maupun mujarad (abstrak) serta bertujuan memimpin, mendidik, dan memberikan panduan (Harun Mat Piah dalam Bakar, 2020)

Mas Mif berkata pantun tidak hanya ada di sumatera saja. Akan tetapi di daerah lain juga ada. Seperti di Tapanuli pantun dikenal namanya ende-ende, di Sunda pantun dikenal nama paparikan, dan di masyarakat Jawa pantun dikenal nama parikan.

Secara nasional pada tahun 2014 pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, juga sudah diakui oleh  UNESCO  pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis. Kita semua patut merasa bangga ungkap Mas Mif.

Selanjutnya Mas Mif mengajak kita semua lanjut ke materi berikutnya yaitu fungsi pantun.  Mas Mif menjelaskan fungsi pantun adalah sebagai alat pemelihara bahasa. Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun mempunyai peran yaitu penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Melalui pantun dapat melatih kecepatan kita  dalam berpikir tentang makna kata dan bermain kata-kata. Dan  secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Kemudian Mas Mif lanjutkan menjelasan tentang ciri-ciri pantun. Mas Mif menyampaikan kita betul-betul harus memahami ciri-ciri pantun. Karena denga memahmi ciri-ciri pantun dengan baik, akan memudahkan kita nantinya menyusun sebuah pantun. Ciri-ciri pantun adalah satu bait terdiri atas empat baris, satu baris terdiri atas empat sampai lima kata, satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata, bersajak a-b-a-b, baris pertama dan kedua sampiran atau pembayang, baris ketiga dan keempat isi atau maksud.

Selesai memaparkan Ciri-ciri pantun, Mas Mif juga mengupas tuntas cara membuat pantun. Mas Mif mengungkapkan cara membuat pantun yaitu pertama, kita harus paham kaidah pantun. Kedua, kaya dan menguasai perbendahaan kata. Ketiga, kita tuliskan isi pantun. Dan keempat, kita tuliskan sampiran pantun. Keempat cara membuat pantun tersebut akan dijelaskan secara rinici berikut ini.

Pertama dalam menulis pantun kita harus memahami kaidah pantun. Mas Mif mengajak kita semua dalam menulis pantun jangan ada ketimpangan jumlah kata maupun jumlah suku kata antar barisnya. Buatlah pantun yang  jumlah kata dan jumlah suku kata antar barisnya seimbang. Misalnya jika baris satu terdiri atas empat kata, maka baris kedua, ketiga dan keempat terdiri atas empat kata. Jika baris satu terdiri atas delapan suku kata, maka baris kedua, ketiga dan keempat terdiri atas delapan suku kata juga. Begitu juga dengan persajakan tetap kita pertahankan menggunakan rima a-b-a-b.  

Contoh pantun

Jangan diasap si ikan sidat,

Taruhlah di dahan lilit benalu,

Salam diucap doa dipanjat,

Semoga Tuhan berkahi selalu.

Ada beberapa macam pola rima yang biasa digunakan dalam menulis pantun yaitu pertama rima akhir. Kedua  rima tengah dan akhir. Ketiga rima awal, tengah, dan akhir. Dan keempat rima lengkap.

Rima akhir, memiliki bunyi yang sama di setiap akhir baris. Mas Miftah mengajak kita semua hindari  memilih rima hanya satu huruf yang sama. Sebaiknya pilih rima, bunyi yang sama di akhir suku kata tersebut. Rima tengah dan akhir jika setiap baris kita menggunakan empat kata, maka di akhir kata kedua dan keempat memiliki bunyi yang sama.

Contoh rima akhir

Pohon nangka dililit bena lu,

Benalu runtuhkan batu ba ta,

Mari kita waspada sela lu,

Virus corona di sekitar ki ta.

Kedua dalam menulis pantun kita harus menguasai perbendahaan kata. Mas Miftah mengajak  kita semua bahwa dalam menulis pantun hindari menggunakan nama orang atau merek dagang. Karena mengurangi keelokan pantun tersebut, dan bisa jadi kena pasal. Kita sebagai penulis pantun harus kaya perbendaharaan kata. Agar supaya kita memiliki banyak perbendahaan kata, kita bisa berkunjung ke https://Kuncitts.com/. Begitu juga sebaliknya bila mengalami kebuntuan mencari kata dengan rima yang sama, bisa memanfaatkan atau minta bantuan ke link tersebut.


Ketiga dalam menulis pantun kita harus membuat isinya terlebih dahulu. Ini artinya kita menulis baris ketiga dan keempat terlebih dahulu. Dan yang keempat dalam menulis pantun kita harus membuat sampiran atau pembayang di baris pertama dan kedua sebagai pelengkap.

Kesimpulan

Agar kita mudah menyusn pantun yang sesuai kaidah pantun maka kita harus memiliki banyak perbendaharaan kata. Tetap semangat dan terus belajar.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok,  lusa dan seterusnya. Tetap semangat belajar, karena tidak ada hal sia-sia dari apa yang telah kita lakukan. (Mas Mif guru kampung, salam  berkarya berdedikasi menginspirasi)

 

Salam Literasi

Helem Parman, S.Pd

Peserta KBMN PGRI Gelombang 33



Komentar

Wijaya Kusumah mengatakan…
Alhamdulillah dapatt ilmu tambahan tentang kaidah pantun dari pakarnya
Helem Parman mengatakan…
Terima kasih om Jay, yang selalu memotivasi dan menginspirasi.

Postingan populer dari blog ini

MENULIS SETIAP HARI DENGAN KECERDASAN BUATAN

MENGELOLAH MAJALAH SEKOLAH

GALI POTENSI, UKIR PRESTASI